JAKARTA – Ekspansi pembiayaan menjadi salah satu penopang kinerja PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI sepanjang paruh pertama 2026. Hingga akhir Triwulan II 2026, total kredit dan pembiayaan BRI Group mencapai Rp1.646 triliun atau tumbuh 16,2 persen secara tahunan.

 

Pertumbuhan tersebut turut menopang peningkatan aset perseroan. Secara konsolidasian, aset BRI mencapai Rp2.352 triliun, meningkat 11,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

 

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan pertumbuhan bisnis tersebut merupakan bagian dari strategi transformasi yang tengah dijalankan perseroan melalui BRIVolution Reignite.

 

“Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi mulai kami konversikan menjadi kinerja. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat dan pada saat bersamaan memberikan manfaat yang semakin luas bagi perekonomian,” ungkap Hery saat pemaparan kinerja BRI di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin (31/8/2026).

 

Selain kredit, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7 persen yoy. Pendapatan bunga bersih atau net interest income meningkat 9,9 persen menjadi Rp80,5 triliun.

 

Pre-Provision Operating Profit (PPOP) juga mencatat pertumbuhan 12,8 persen yoy menjadi Rp65,7 triliun. Secara keseluruhan, laba bersih BRI Group mencapai Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5 persen yoy.

 

Hery menuturkan, ekspansi kredit tetap memperhatikan kualitas aset. Rasio Non-Performing Loan (NPL) BRI turun dari 3,0 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,9 persen pada Triwulan II 2026.

 

Cost of Credit juga membaik dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen. Pada sisi efisiensi, Cost to Income Ratio turun dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen.

 

Perbaikan fundamental tersebut juga terlihat dari Cost of Fund secara bank only yang turun menjadi 2,4 persen dari sebelumnya 3,0 persen.

 

“Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan yang kami capai semakin berkualitas. Funding semakin efisien, efisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI dalam menghasilkan return juga semakin kuat,” kata Hery.

 

Di tengah pertumbuhan kredit secara keseluruhan, BRI tetap memberikan porsi besar terhadap sektor UMKM. Hingga akhir Juni 2026, pembiayaan UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6 persen yoy.

 

Dengan angka tersebut, sekitar 75,1 persen portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group tersalurkan kepada segmen UMKM.

 

BRI juga memperkuat penyaluran pembiayaan melalui KUR. Sepanjang Januari-Juni 2026, KUR BRI mencapai Rp103,8 triliun dan disalurkan kepada lebih dari 2 juta debitur.

 

Hery mengatakan pengembangan bisnis tetap diarahkan untuk menciptakan sumber pertumbuhan yang semakin beragam tanpa mengubah posisi UMKM sebagai fondasi bisnis.

 

“BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.